Posts

KUMPULAN ADEGAN HUJAN DALAM KOMIK INDONESIA

Image
  Rimbang Baling Expedition - Sheila R. Putri Wiro Anak Rimba (Di Dalam Rimba Sumatra) – Lie Djoenliem & Kwik Inghoo Badai dan Asmara di Teluk Tiram - Teguh Santosa

Komik sebagai Puisi

Image
Oleh: Ivan Brunetti, 30 Januari 2020 Diterjemahkan oleh: Chandra Agusta Dalam kolomnya, "Line Readings", Ivan Brunetti memulainya dengan pembacaan mendalam satu unit komik — panelnya, halamannya, atau perluasannya — lalu meluas meliputi sejarah komik, dan dunia secara keseluruhan. 

YANG TERSELIP DALAM DENDAM SEMANGKOK MIE AYAM

Image
[SPOILER ALERT] Menikmati makanan kesukaan sudah pasti jadi salah satu hal paling menyenangkan dalam hidup. Sensasi rasa yang terkecap di lidah, ditambah pula dengan pengalaman dan ikatan emosional tertentu pada makanan favorit itu, bisa jadi menambah nikmat. Sudah menjadi hal yang lumrah pula, bahwa menikmati makanan kesukaan menjadi sarana untuk berkumpul dengan orang-orang terdekat. Tapi apa jadinya jika makanan favoritmu adalah arwah penasaran penuh dendam yang ingin menuntut balas? Dalam komik, semua hal memang bisa terjadi, termasuk hantu berwujud mie ayam yang ingin membalas dendam. Terdengar ganjil, tapi itulah yang terjadi dalam komik pendek berjudul Pembalasan Mie Ayam dari Neraka karya Alzein Merdeka ini. Alzein memang dikenal melalui kisah-kisahnya yang aneh, ganjil, dan kental dengan eksplorasi nilai-nilai lokal.  Bagaimana pun, ketika kita membaca sebuah komik, sebagai sebuah karya komik itu haruslah dipandang sebagai produk sebuah zaman yang tak bisa dilepaskan dari ...

BEASILVA, BEASISWA TANPA MINIMAL IPK.

Image
Saat terakhir kami berjumpa di Bogor di awal Februari tahun ini, Danang baru saja menikah, dan Ableh baru saja berhasil merayu istrinya yang ngambeg setelah mengetahui bahwa ia diam-diam masih merokok. Problem-problem rumah tangga sepertinya mulai meng hantui mereka, dan aku datang sebagai seorang yang merde ka (merdeka dari Ida, kata Chairil Anwar). Tapi bukan itu yang mau diceritakan. Adalah Beasilva, yang saat kami bertemu itu, sudah memasuki semester ke 5. Dan aku merasa agak terharu. Dua tahun lalu, saat kami masih miskin -- o rang budak hidup dalam palu-palu berkeliling, kata Afrizal Malna-- dan mereka berdua belum menikah, kami mencoba-coba membuat sebuah beasiswa mandiri yang bersumber dari dana kolektif , buat a nggota-anggota mapala di kampus . Alasannya sederhana. Banyak orang koar-koar kalau IPK bukan satu-satunya alat mengukur prestasi . Padahal katanya lagi: s oft skill itu penting, termasuk di dalamnya prestasi non akademik. S ialnya, jarang se...

MENGHANCURKAN HIDUP

Aku ingin tertawa melihat usahamu menghancurkan  hidup pada dinding-dinding berlumut dan sepatu boot Susunan huruf huruf yang tak bisa kau lafalkan racun abadi peradaban logam berat mengental dalam darah yang diperas dan disaring pedagang jus buah keliling untuk para tentara Jakarta, November 2017

Percakapan Tentang Perilaku Binatang Menurut Teman Teman

Senang sekali, ternyata ada yang mau membeli, lalu kemudian memberikan pendapat tentang "Percakapan Tentang Perilaku Binatang". Sebagai arsip, saya akan mengumpulkannya di sini. Saya menikmati semua komentarnya, sungguh. So, mari kita mulai! 1. Dari Arif Abdurrahman, yang blognya sering kubaca: yeaharip.com "Ya ampun ini kan cuma tulisan cerpen, kenapa sih harus repot-repot dibedah, dikritik dan ditelaah sampai begitu rupa?” makinya dalam hati. Memang, ga ada gunanya juga. Saya sendiri ga terlalu mikirin tradisi susastera, dan saya sendiri bukan kritikus susastera, tapi lebih sebagai konsumen. Dan sebagai bagian consumer society tentu boleh ngajuin keluhan konsumen - sebagai konsumen yg snob, tentu saja. Semua cerpennya menyuarakan tema cerita serupa: manusia kontemporer yg teralienisasi kehidupan modern. Setiap suara protagonisnya pada sama, ala-ala Murakami, namun dari penceritaan terkesan buru-buru dan hanya sebatas laporan reportase (ini mungkin karen...

Pulanglah, Kau Mabuk!

Image
September berakhir, dan semua orang sepertinya sudah ikut membangunkan Billie Joe Armstrong dari tidur panjangnya selama sebulan. Begitu ia terbangun, tahu-tahu sebuah band punk-rock asal Cirebon, Puppyhansen, sudah menyiapkan sebuah single terbaru: Pulanglah, Kau Mabuk! Pasang headsetmu, jalankan aplikasi musik online digitalmu. Begitu lagu ini mengalun, musik menghentak, lirik-lirik pendek yang menyindir, dengan ciri umum yang mudah ditemukan pada generasi X, yaitu kemarahan, berhamburan memecah telinga. Sebuah lirik tentu lahir dari kondisi sosial di mana lagu ini diciptakan. Kondisi sosial di tanah air saat ini memang boleh dibilang cukup memuakkan. Aksi aksi berbau SARA oleh ormas-ormas berbasis agama, isu-isu kebangkitan komunis yang sudah sangat basi (saya pikir ini adalah salah satu sebab mengapa Billie Joe Armstrong ingin tidur selama bulan September), penggerudukan diskusi-diskusi, dan banyak lainnya, marak tak terkendali. Puppyhansen, seperti juga kita, ...